Tampilkan postingan dengan label BOOK REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BOOK REVIEW. Tampilkan semua postingan

6.02.2008

Preview: Marketing Revolution


Ini saya dapat kiriman e-mail langung dari Pak Tung, mengenai rencana penerbitan bukunya Marketing Revolution tanggal 1 Juli 2008. Yang Bab 1 karena sifatnya preview, jadi mohon maaf jika ada kesalahan.

Salam Dahsyat!!!

Dear Friend,
Buku Marketing Revolution akan terbit tanggal 1 Juli 2008.
Saya ingin anda mengetahui seperti apa isi dari buku saya. Oleh karena
itu, saya memberikan kepada anda bab pertama dari buku ‘Marketing
Revolution’ untuk anda baca terlebih dahulu.
Selamat Menikmati!
Tung Desem Waringin

BAB I
MARKETING REVOLUTION

Menurut Saya Tujuan Marketing adalah Menukarkan Nilai Tambah yang Ada ke Sebanyak Mungkin Pembeli, sesering mungkin sehingga Pembeli Untung, Penjual Untung. Di dalam dunia Marketing ada 2 aliran:
1. Aliran “Mengingatkan”
2. Aliran ”Menawarkan”
Aliran Mengingatkan / Branding / Institutional Marketing /Awareness, seringkali membutuhkan biaya iklan sangat besar & tidak menghasilkan penjualan. Karena Awareness / Ingat tidak sama dengan Penjualan. Kemungkinan orang ingat sekali akan keberadaan produk tertentu tetapi kalau mereka tidak mau membeli produknya, tentu akan sangat merugikan bagi para pengusaha yang telah mengeluarkan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk suatu iklan yang tidak meningkatkan penjualan. Dan seringkali Aliran ini merupakan Open Marketing dimana biaya marketing tidak bisa diukur hasil penjualannya.
Aliran Menawarkan/Direct Response Marketing. Dalam Aliran ini biaya Marketing bisa dibandingkan dengan hasil penjualan. Kegiatan Marketing termasuk iklan akan selalu diukur hasil penjualannya. Dengan demikian Biaya Marketing dikeluarkan dengan efektif & efisien. Aliran ini merupakan aliran Close Marketing dimana biaya marketing bisa diukur hasil penjualannya. Yang terbaik dari aliran Menawarkan adalah biaya marketing bisa unlimited. Kalau kita bisa mengukur berapa biaya beli per customer dan berapa keuntungan per customer. Sebagai contoh biaya beli (biaya marketing) untuk mendapatkan seorang customer dibutuhkan rata-rata biaya Rp 1.000.000,- dan ternyata keuntungan bersih per customer rata-rata Rp 2.000.000,- maka biaya marketing boleh unlimited. Usaha marketing yang sudah menghasilkan ini boleh diulangi terus selama masih menghasilkan. Ketika Saya Pulang dari Denpasar ke Jakarta di sebelah saya ada
seorang direktur sebuah Bank yang mengatakan ”Wah Aliran Pak Tung adalah Aliran Hard Selling”. Saya jawab ” Sebetulnya tidak Pak, Seperti kata Deng Xiao Ping (ex PM China) tidak perduli kucing putih atau kucing hitam yang penting bisa menangkap tikus. Demikian juga Aliran Marketing Saya Pak, tidak perduli soft selling atau hard selling yang paling penting penjualan meningkat. Saya tidak terjebak dalam dikotomi atau pemisahan antara soft selling & hard selling. Sebagai contoh: Di dalam Marketing Revolution

Saya tidak menolak aliran ”Mengingatkan”/Branding/Soft Selling ini. Hanya saja saya lebih suka menggunakan Publisitas, Press Release, Public Relation untuk menghasilkan Branding/Awareness daripada iklan. Publisitas (Melakukan Perbuatan Gila Positif yang layak berita) sehingga Mass Media dengan sukarela memuat berita jauh lebih murah dibanding iklan. Dan bila memang perusahaan mempunyai dana untuk Mengingatkan sangat besar, boleh saja menggunakan iklan besarbesaran, untuk Awareness asal pada akhirnya Penjualan Meningkat.
Namun Saran Saya, semaksimal mungkin Terukur Hasil Penjualannya. Bukan hanya Terukur Awarenessnya. Misal jangka waktu tertentu iklan yang hanya Mengingatkan ini diukur tingkat penjualannya kemudian diganti dengan iklan Mengingatkan yang lainnya kemudian bandingkan hasilnya. Juga kenapa tidak, setelah anda Mengingatkan, ditambah Menawarkan benefits yang emosional, ditutup dengan penawaran terbatas (waktu, discount, hadiah, keuntungan) bagi yang Take Action. Maka sempurna adanya. Orang ingat, sekaligus beli & bisa diukur efektifitas iklannya seketika. Untuk Merevolusi Marketing dimana berarti terjadi peningkatan penjualan secara dramatis besar & cepat, Gunakan sebagian kecil biaya untuk Publisitas sehingga Awareness meningkat, Gunakan sebagian besar biaya untuk Menawarkan sehingga penjualan meningkat. Juga karena Tujuan Marketing menurut saya adalah Menukarkan Nilai Tambah yang Ada ke Sebanyak Mungkin Pembeli, sesering mungkin sehingga Pembeli Untung, Penjual Untung. Maka mestinya untuk ”Menukarkan” kita perlu ”Menawarkan.....!” bukan hanya ”Mengingatkan”.


Definisi Ilmu Marketing bagi Saya adalah Ilmu Menyampaikan Penawaran kepada Target Market sehingga terjadiPenjualan yang berkesinambungan. Sedang Definisi Ilmu Marketing Revolution adalah Ilmu Menyampaikan Penawaran kepada Target Market sehingga terjadi Peningkatan Penjualan yang berkesinambungan secara cepat & besar. Untuk terjadi penjualan berkesinambungan pasti syaratnya adalah baik Pembeli maupun Penjual untung. Semisal hanya penjual yang untung, pembeli rugi, pembeli pasti kapok tidak mau beli lagi. Sedangkan Semisal hanya pembeli yang untung, penjual rugi maka penjual semakin lama tidak bisa jualan lagi. Tantangan & Pokok Bahasan Pertama Ilmu Marketing Revolution adalah bagaimana Menciptakan Penawaran yang Begitu Menarik & Bisa Dipercaya, sehingga calon pembeli akan berkata kepada diri Pokok Yang Paling Penting Dalam BISNIS Bukan Kantor, Bukan Mr Hi Tech, Bahkan Bukan Produk atau Jasa. Melainkan PENAWARAN. Bisnis belum ada sebelum ada PENAWARAN. Mark Joyner sendiri ”Saya Goblok Kalau tidak Mau Beli” atau ”Saya Sungguh Beruntung Bisa Beli”.

Tantangan & Pokok Bahasan Ke 2 Ilmu Marketing Revolution adalah bagaimana Menyampaikan Penawaran yang Begitu Menarik & Bisa Dipercaya kepada calon pembeli yang tepat. Misal anda menawarkan Mercedes Benz S-class dengan harga sangat murah 50% dari Harga Pasar masih berhadiah 2 kursi pijat Osim senilai Rp. 100 Juta sekaligus Plus Tukang Pijatnya tetapi anda menawarkan kepada pengemis di pinggir jalan bisa jadi yang bersangkutan hanya tertawa. Namun misal pengemis ini berjiwa pengusaha atau pernah ikut seminar atau membaca & mempraktekkan isi buku Marketing Revolution, bisa jadi dia adalah calon pembeli yang tepat. Karena dia akan praktek makelar. Anda baru saja membaca Bab 1 dari ’Marketing Revolution’ Baca bab-bab selanjutnya yang lebih dahsyat dari ini.


Beli Sakarang Juga!
Hubungi (021) 547 6677 – Hunting (Ria/Lasri)
Atau melalui
http://www.dahsyat.com/buku-marketing-revolution/index2.html

Anda ingin membaca salah satu contoh kasus dalam buku ini?
Referensikan buku ini kepada 3 (tiga) orang teman anda dan saya akan
kirimkan salah satu contoh kasus dalam buku ’Marketing Revolution’
langsung ke email anda.
Untuk mereferensikan buku ini, klik di
http://www.dahsyat.com/buku-marketing-revolution/index4.htmlSalam dahsyat!
Tung Desem Waringin

Baca selengkapnya never give up: BOOK REVIEW

5.19.2007

Bergerak....(dari buku CHANGE)

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “Change“.
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak.

Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.”
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu.
Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.
Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!”
Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.
Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.
Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?
Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang….”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari.
Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.

Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras.
Ia bisa menilai “gila” nya orang disana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasasama dengan mereka, ia pun protes.
“Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat. Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari,
Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak.
Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.

Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural.

Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.

Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
“Winners take action, they simply get up and do what has to be done”.

Selamat bergerak!

Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali
Baca selengkapnya never give up: BOOK REVIEW

RE-CODE YOUR CHANGE DNA.......





  • Judul Buku: Re-code Your Change DNA
  • Pengarang: Rhenald Kasali
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
  • Jumlah halaman: 270
  • Penulis Resensi: Meisia Chandra

Setelah cHaNgE!, Rhenald Kasali kembali dengan buku yang semakin dalam mengurai proses perubahan.

Re-code Your Change DNA adalah buku yang harus dibaca siapa pun yang ingin melakukan perubahan dalam hidupnya. Untuk beranjak dari satu titik tempat kita sedang berada ke tempat yang kita inginkan, maka kita harus berubah. Apa yang diperlukan dalam proses perubahan itu?

Berdasarkan pengalamannya, perjalanannya, buku-buku dan riset yang dipelajarinya, Rhenald Kasali yang saat ini adalah staf pengajar UI dan menjabat Ketua Program Magister (MM) universitas yang sama menyusun sebuah teori tentang bagaimana terjadinya sebuah perubahan.

Dengan teori yang diajukannya --dari Re-code individu, Re-code leader, Re-code pikiran, Re-code organisasi, hingga Re-code the critical mass-- Rhenald sepertinya akan kembali berkeliling dari seminar ke seminar, dan dari organisasi ke organisasi, untuk mengajarkan langsung teorinya itu. Sebelumnya, hal yang sama terjadi setelah cHaNge! terbit dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca.

Menurut Rhenald, agar tetap unggul dalam dunia bisnis yang kompetitif, setiap organisasi harus adaptif terhadap perubahan. Organisasi yang adaptif didukung oleh SDM dengan kadar Change DNA yang tinggi. Change DNA adalah sifat-sifat dasar yang membentuk diri seseorang sehingga ia mampu melihat dan bergerak melakukan perubahan.

Unsur-unsur pembentuk sifat perubahan (Change DNA) itu dapat disingkat menjadi OCEAN, yang terdiri dari Openness to experience, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, dan Neuroticism. Buku ini juga menyediakan tes untuk mengukur kadar OCEAN Anda, sehingga Anda bisa mengetahui bagian mana yang perlu Anda benahi untuk menjadi seorang penggerak perubahan.

Rhenald memberi ilustrasi beberapa individu yang dianggapnya mempunya Change DNA yang unggul, yaitu Muhammad Yunus yang mendirikan bank untuk pengemis, Paul Otellini yang membuat perubahan besar-besaran di Intel, Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum yang mengubah Dubai dari sebuah padang pasir menjadi Hongkong-nya Timur Tengah, dan juga Martin Luther King yang memperjuangkan hak-hak kaum kulit hitam.

Cerita-cerita di atas disampaikan dengan cara yang menarik dan sangat inspiratif. Tidak ketinggalan, disertai juga foto-foto yang menarik, yang mewarnai seluruh buku ini. Buku ini adalah buku manajemen yang disampaikan dengan cara yang "ngepop". Setiap bab dilengkapi dengan foto, ilustrasi, kutipan, kesimpulan, komentar penulis, dan bahkan foto-foto penulis sendiri dalam berbagai ekspresi.

Tidak hanya cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti disebutkan di atas, dalam buku ini juga terdapat cerita dari organisasi-organisasi di Indonesia, seperti Citibank, BCA, dan terutama dalam pemerintahan kita. Betapa Rhenald sang guru ingin melihat perubahan dalam bangsa ini. Perubahan itu harus dimulai dengan adanya pemimpin yang memiliki Change DNA unggul. Karena itu dalam buku ini juga diuraikan banyak teori tentang kepemimpinan.

Sebuah solusi dengan pemimpin-serba-super maka semua bisa diatasi, tapi apa benar bisa spt itu? kenyataannya tidak, namun ada rumus menarik (Kasali, 2007), yag semuanya harus dilakukan bersama.

  • Visi, visi ke depan, tanpa itu maka akan terjadi kekacauan
  • Skill, ketrampilan melakukan sesuatu yang baru, tanpa ketrampilan maka kecemasan akan muncul
  • Insentif, dorongan untuk terus maju, tanpa insentif, penolakanpun akan terjadi
  • Resources, sumberdaya yang memadai, bs dicari dimana saja (diri anda, teman, saudara, guru, org tua). No-resources akan terjadi frustasi
  • Action Plan, jelas jika tidak ada rencana tindakan maka akan terjadi kegagalan


Bila Anda ingin organisasi Anda berubah, maka mulailah dengan me-re-code Change DNA Anda.



-dihimpun dari berbagai sumber-

Baca selengkapnya never give up: BOOK REVIEW